BencanaPengumumanWajib Serta Merta

Antisipasi dan kesiapsiagaan menghadapi La lina di tengah Pandemi

Pada saat ini, seluruh wilayah D.I.Yogyakarta telah memasuki musim penghujan, dengan kondisi curah hujan di atas normal. Berdasarkan siaran pers Antisipasi dankesiapsiagaan dalam menghadapi la-nina pada musim hujan 2021/2022 D.I.Yogyakarta oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Kelas IV Sleman, 16 November lalu, pantauan indeks ENSO (El Nino -Southhem Oscilation) hingga dasarian I November 2021 menunjukkan kategori La Nina lemah-sedang (-0,99) dan fenomena La Nina ini diperkirakan akan berlangsung hingga periode April-Mei-Juni 2022 mendatang.

La Nina merupakan fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi. La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi, selain angin muson. Nama La Nina diambil dari bahasa Spanyol yang berarti gadis kecil. Fenomena ini merupakan kebalikan dari fenomena El Nino yang menyebabkan udara terasa panas di Indonesia. Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketika terjadinya fenomena ini, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal. Pendinginan ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah. Selain itu, angin pasat (trade winds) berembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Hal ini menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat. Karena massa air hangat berpindah tempat, maka air yang lebih dingin di bawah laut Pasifik akan naik ke permukaan untuk mengganti massa air hangat yang berpindah tadi. Hal ini disebut upwelling dan membuat SML turun. Kondisi ini akan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia, serta membuat musim hujan terjadi lebih lama.
Pengaruh La Nina sendiri di wilayah D.I Yogyakarta berdampak pada peningkatan curah hujan bulanan di atas normal atau rata-ratanya, bahkan pada bulan November ini, La Nina dapat memicu peningkatan curah hujan hingga 60 % dibandingkan kondisi normal, di mana curah hujan umumnya mencapai 300-500 mm dalam 1 bulan (kategori tinggi-sangat tinggi). Sedangkan pada periode musim hujan Desember-Februari, La Nina dapat memicu peningkatan curah hujan dalam kisaran 20-60 5 dibandingkan normalnya, dengan curah hujan umumnya mencapai 300-500 mm dalam 1 bulan (kategori tinggi-sangat tinggi).
Oleh karena itu, perlu diwaspadai peningkatan potensi bencana hidrometeorologi ( Bencana hidrometeorologi merupakan suatu bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin) di puncak musim hujan. Adapun puncak musim hujan di wilayah D.I.Yogyakarta diprakirakan terjadi pada bulan Januari 2022.  Pemerintah Kapanewon Ngemplak mengimbau masyarakat untuk membersihkan saluran-saluran air, memangkas ranting pohon yang membahayakan dan memastikan lingkungan sekitar aman dari ancaman bencana hidrometeorologi serta senantiasa memperbaharui informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial info BMKG di Playstore, Facebook Stasiun Klimatologi Yogyakarta atau instagram @staklim_jogja atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat. (kontributor-Ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *